19 May 2015

Keindahan Kecil Milik Kita yang Terenggut





Era Gegas. Itulah salah satu sebutan untuk dunia kita saat ini. Semua harus serba cepat, serba gegas. Kalau punya komputer ya harus yang prosesornya paling cepat, tidak lemot. Kalau punya Smartphone ya harus yang cepat koneksi internetnya dan pemrosesan yang lainnya. Bahkan kalau pesan makanan harus cepat, sehingga muncul banyak restoran cepat saji. Pakai motor atau mobilpun harus yang bisa ngebut. Akselerasi menjadi hal yang wajib. 



Berangkat sekolah harus cepat. Berangkat kerja harus lebih cepat. Kalau perlu, aturan lalu lintas dan keselamatan orang lain di singkirkan lebih dulu. Yang penting tidak terlambat sampai sekolah atau kantor. 


Sudah tak ada waktu lagi buat kita untuk sedikit menikmati perjalanan yang kita lalui setiap hari. Semuanya serb auto-pilot. Kita tidak lagi perhatian dengan apa yang ada di sepanjang perjalanan tadi. Tujuan atau destinasi akhir adalah segalanya. Yang lain tak penting.


Sangat jarang kita sedikit mengurangi kecepatan untuk sekedar menikmati pemandangan alam di sepanjang perjalanan. Pemandangan alam yang sudah diberikan oleh Tuhan untuk kita nikmati. Untuk kita. Pemandangan yang dianugerahkan Tuhan. Milik kita yang berharga walau selama ini tak tertangkap oleh panca indera kita. 


Indahnya bunga bunga liar yang mungkin kita lewati setiap hari ke sekolah atau ke kantor. Atau taman – taman indah yang dihasilkan ahli taman. Taman itu biasanya hanya segerombolan daun dan bunga bermacam warna. Jarang kita melihat bunga rumput liar sebagai sebuah keindahan ciptaan Tuhan yang dianugerahkanpada kita. Jarang pula kita melihat keindahan artistik sebuah taman penuh warna bunga. Lagi – lagi hijau daun dan warna bunga itu sesungguhnya anugerah Tuhan untuk kita cicipi, untuk kita nikmati keindahannya.


Ketergesaan kita sehari-hari karena tuntutan jaman membuat keindahan itu terlewat begitu saja. Harus ada keberanian untuk sedikit melambatkan ritme kehidupan kita. Sanggupkah kita menyisihkan waktu untuk sekedar “menghargai” anugrah Tuhan yang sepele dan kecil ini? 

Atau kita haru mengalah pada ketergesaan yang setiap hari mendorong kita untuk menjauh dari menikmati anugerah Tuhan ini. Akhirnya sanggupkan di era gegas ini kita berhenti sejenak untuk menikmati secangkir kopi panas, secangkir teh hangat, secangkir coklat kental dan menikmati segala keindahan disekitar kita yang sering luput dari panca indera kita?.

No comments:

Post a Comment